Yuk Mempelajari Cara Menerapkan Manajemen Resiko Dalam Forex

Manajemen Resiko dalam Forex

Dalam sebuah bisnis perdagangan apapun, selalu ada namanya resiko. Entah bisnis apapun itu mulai dari bisnis jual sembako di pasar, jual barang elektronik, bisnis forex hingga bisnis jual makanan donat, resiko akan selalu ada. Resiko tidak bisa hilang namun bisa dikendalikan. Dalam dunia trading forex, resikonya sangat tinggi begitu pula dengan peluang keuntungannya. Supaya kita bisa memaksimalkan peluang untung dan meminimalisir resiko, diperlukan sebuah manajemen resiko atau “risk management”. Dengan menerapkan manajemen resiko kita bisa membatasi kerugian yang mungkin akan kita alami. Ibarat bermain catur, kita harus sangat berhati-hati dalam melangkah sebelum menjalankan bidak catur supaya tidak rugi dan kalah. Dalam dunia trading forex, kita berupaya untuk menghindari kerugian yang bisa berujung kegagalan atau kekalahan bisnis.

Dalam trading forex, ada 4 teknik manajemen resiko yang dapat kita lakukan: cut loss, switching, averaging, dan locking.

  1. Cut Loss

Cut loss dilakukan dengan cara menutup segera transaksi yang sudah terlihat mengalami kerugian dengan tujuan untuk menghindari resiko rugi yang lebih parah. Contoh perhitungannya adalah sebagai berikut:

Kita memprediksi harga akan turun, maka kita melakukan Sell sebanyak 1 Lot di level 15000. Ternyata harga malah bergerak naik hingga ke level 15100, sehingga kita mengalami kerugian sebesar -100 poin. Karena kita tidak ingin mengalami kerugian yang lebih besar, maka kita tutup posisi Sell tadi. Namun resiko tetap kita mengalami rugi -100 poin.

  1. Switching

Switching bertujuan membuang posisi yang mengalami kerugian lalu meng-cover-nya dengan cara membuka transaksi baru berlawanan arah transaksi awal. Biasanya switching dilakukan di saat kondisi pergerakan harga relatif kencang. Contoh perhitungannya adalah sebagai berikut:

Kita memprediksi harga akan turun dan kita telah membuka Sell sebanyak 1 Lot di level 15000. Namun harga semakin naik hingga level 15100 dan kita mengalami kerugian -100 poin. Kita segera menutup posisi Sell awal tadi di level 15100. Selanjutnya kita membuka posisi Buy di level 15100 tadi dengan harapan jika harga terus naik, kita akan dapat untung. Ternyata harga benar-benar mengalami kenaikan hingga ke level 15200, sehingga kita untung +100. Hasil akhirnya berarti kita telah mengalami rugi sebesar -100 dan untung sebesar +100. Dengan kata lain, kita berhasil menutup kerugian sebelumnya.

Dan perlu diingat bahwa bisa jadi saat kita meng-cover, akan terjadi perubahan arus lagi yang bisa menyebabkan kerugian

  1. Averaging

Averaging merupakan teknik yang juga terkenal dengan sebutan ‘cost-averaging’ atau teknik ekstrim yang melawan pergerakan harga. Hanya trader dengan mental baja saja yang berani melakukan ini. Contoh kasus perhitungannya adalah sebagai berikut:

Kita melakukan Sell sebanyak 1 Lot di level 15000, namun harga naik ke level 15100 dan kita mengalami rugi -100 poin. Kita bukannya menutup posisi Sell namun kita menambah lagi 1 posisi Sell sebanyak 1 Lot di level 15100. Sayangnya, harga terus naik hingga level 15200, sehingga total rugi kita -300 poin. Kita kembali membuka posisi Sell di level 15200. Kemudian, harga mulai turun ke level 15100, kita tutup di level 15100. Saat ini rugi telah ditutup oleh keuntngan yang barusaja didapat, dengan poin sementara 0 poin. Jika nanti harga turun lagi dan kembali ke level 15000, kita akan mendapat untung +1500 poin.

Teknik ini sangat bagus digunakan saat keadaan pasar sideway.

  1. Locking

Locking biasa disebut juga sebagai hedging. Teknik ini adalah teknik aneh di mana trader tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kerugian yang dideritanya. Teknik ini mirip dengan cut loss namun dalam kasus locking, saat mengalami kerugian saat Sell, kita tidak “membuang” posisi kita. Kita akan menambah posisi Buy di level di mana kita mengalami kerugian dan menguncinya. Berikut adalah contoh perhitungannya:

Kita melakukan Sell di level 15000, namun mengalami kerugian sebesar -100 poin karena harga naik ke level 15100. Kita menambah posisi Buy di level 15100 dan menguncinya. Jika harga tetap naik ke level 15200, dengan posisi Sell tadi kita tambah rugi sebesar -200 namun mendapat keuntungan dari posisi Buy tadi sebesar +100. Kondisi inilah yang dirasa cukup aneh. Trader akan tetap mendapat kerugian sebesar -100 tidak peduli sejauh mana harga terus naik ke level yang lebih tinggi.

Sebagai manusia yang tidak mau rugi, tentu ada banyak cara yang dapat dilakukan. Apalagi dalam dunia bisnis forex. Dengan mengetahui beberapa teknik dalam manajemen resiko, para trader bisa lebih paham lagi akan pentingnya mengendalikan resiko maupun keuntungan yang akan diterimanya.